Posted by: sukmareni | April 4, 2007

Belajar pada Masyarakat

stern-di-hutan-adat2.jpg

>>Uncle Stern sedang melihat-lihat hutan adat masyarakat Guguk

Ya, kejadiannya sih udah seminggu yang lalu, lebih malah. Sir Nicholas Stern mau tahu tentang Stern baca disini—penasehat ekonomi pemerintah Inggris di dampingi Duta Besar Inggris untuk Indonesia berkunjung ke Jambi. Selain lawatan dengan pemerintah daerah, Stern juga berkenan untuk mengunjungi Desa Guguk Kecamatan Sungai Manau Kabupaten Merangin Jambi. Banyak hal unik dari kunjungan Stern ini, terutama ketika berada di Desa.

Masyarakat desa guguk, pada hari kedatangan Stern, sengaja meniadakan aktifitasnya. Sebagian masyarakat berkumpul di lapangan desa tempat yang dijadikan helipad. Di tengah lapangan bola yang disulap jadi helipad dengan ditandai huruf H dalam lingkaran, menjadi pusat perhatian masyarakat. Maklum deh jarang-jarang masyarakat bisa melihat langsung capung besi. Maka beramai-ramailah masyarakat disekitar lapangan untuk menyaksikan pendaratan heli milik Polda Jambi yang membawa rombongan Stern tersebut.

Ketika heli mendekati desa Guguk sekitar pukul 2 siang, masyarakat berhamburan, pengen melihat dari dekat, tetapi di hadang hembusan angin baling-baling. Tidak sedikit juga orang yang berteriak-teriak kegirangan menyaksikan capung Polda itu hinggap di lapangan bola. wah pokonya seru deh… Kali ini baru pertama heli mendarat di desa yang berjarak 30 km dari Kota Bangko ibukota Merangin.

Stern yang selama ini dikenal dengan Stern reviewnya, usai mendarat langsung meninjau beberapa lokasi yang, diantaranya perkebunan karet milik masyarakat. Ya, karet memang penghasilan utama masyarakat desa ini, karet selain berfungsi ekonomi, juga tanaman yang tergolong ramah lingkungan, apalagi dengan pola tanam campur, kebun karet akan memiliki fungsi nyaris sama dengan hutan alam, tidak hanya sebagai daerah tangkapan air yang akan menjaga keseimbangan air tanah, dan air permukaan, tapi juga sebagai habitat dari beragam biodiversity.

Selanjutnya Stern melanjutkan perjalanan mengunjungi hutan adat Desa Guguk. Hutan adat yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai Kawasan Bukit Tapanggang seluas 690 ha, telah ditetapkan sebagai hutan adat desa yang juga telah diakui oleh Pemerintah Kabupaten Merangin, dengan adanya SK Bupati No 287 Tahun 2003 tentang pengukuhan kawasan Bukit Tapanggang sebagai hutan adat masyarakat hukum adat Desa Guguk Kecamatan Sungai Manau Kabupaten Merangin pada 2 Juni 2003 lalu.

Untuk menuju kawasan ini, Stern dan rombongan melewati jembatan gantung sepanjang lebih dari 100 meter dengan ketinggian lebih kurang 15 meter, wow melewati jembatan ini bagi yang pobia ketinggian yakin tidak mampu melewatinya. Belum lagi goyangannya yang aduhai membuat pusing kepala, pokoknya ngeri banget deh melewati jembatan berayun ini. Uniknya Stern dan rombonganya, santai saja melewati jembatan ini. Stern pun sampai di kaki hutan adat yang ditumbuhi beraneka ragam tumbuhan termasuk buah-buahan. Di hutan adat ini ditemukan 116 jenis pohon diantaranya tembesu, kulim, medang, meranti. Juga dapat ditemui 91 jenis burung diantaranya rangkong, murai batu dan beberapa jenis elang. Juga terdapat Harimau Sumatera, Rusa dan Kijang bersama 21 jenis mamalia lain yang teridendifikasi. Sedangkan hasil hutan non kayu, di hutan adat ini juga terdapat rotan, manau dan jernang.

Stern dalam kunjungannya ini menyatakan salut dengan upaya yang telah dilakukan masyarakat Guguk dalam mempertahankan kawasan hutan mereka. Maklum deh sebelum menjadi hutan adat kawasan ini sudah masuk ke kawasan HPH milik PT Injabsin. Masyarakat pun protes dan meminta dikebalikannya kawasan itu ke masyarakat. Sejak zaman nenek moyang, sejak kedatangan moyang masyarakat Guguk yang merupakan keturunan Marga Pembarap yang berasal dari Kerajaan Mataram dan Minang Kabau, telah diakui oleh Sultan Jambi yaitu Sultan Anom Seri Mogoro. Sultan Jambi dalam Piagam Lantak Sepadan yang diberikannya kepada Depati Pembarab mengakui keberadaan mereka dan wilayah yang akan mereka kelola, lengkap dengan tata cara pengelolaanya.

Tata cara itulah yang hingga kini masih diterapkan oleh masyarakat Guguk, hingga kemudian secara sepihak wilayah tersebut masuk ke dalam areal konsensi HPH. Cemas hutannya akan hilang dan tidak ada lagi hutan dengan segala fungsinya yang pasti akan sangat dibutuhkan anak cucu, masyarakat Guguk dengan di dampingi KKI Warsi memperjuangkan kawasan itu dikeluarkan dari areal HPH. Untunglah perjuangan panjang dan melelahkan itu membuahkan hasil dengan diakuinya kawasan Bukit Tapanggang itu menjadi hutan adat desa.

Kembali ke Stern. Stern tertarik dengan model yang telah dikembangkan masyarakat Desa Guguk tersebut. Menurutnya upaya yang dilakukan komunitas lokal ini, merupakan salah satu contoh upaya untuk mengurangi emisis karbon yang menjadi penyebab berubahnya iklim global. Menurut Stern, kehilangan hutan memunculkan emisi yang cukup signifikan. Sekitar 18 persen emisi global disebabkan penggundulan hutan. Jumlah tersebut masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan emisi yang diproduksi sektor transportasi. So, langkah yang diambil komunita Guguk dalam mempertahankan hutan diharapkan mampu dilakukan secara lebih global sehingga juga memberikan dampak yang lebih global. Untuk itu, Stern dalam dialog dengan masyarakat menyatakan akan mengupayakan negara maju memberikan dukungan terhadap upaya-upaya penyelamatan kawasan hutan. Upaya tersebut bisa dilakukan dengan memberikan bantuan langsung. Upaya debt swap to nature atau penghapusan sejumlah utang untuk peremajaan hutan juga bisa menjadi alternatif.

“Dari mana datangnya uang, itu harus dilakukan bersama-sama untuk meyakinkan negara kaya,” ujar pengajar di Oxford University dan Massachusetts Institute of Technology (MIT) tersebut.

(kuambil dari beritanya koran ini)

Stern mengakui, upaya mengurangi pembabatan hutan bisa berbenturan dengan keinginan pemanfaatan lahan secara ekonomis. Misalnya, pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit. Namun, hal tersebut tidak boleh menghalangi upaya mengurangi pembabatan hutan.

Selain mengatasi pembabatan hutan, upaya lain adalah mengurangi emisi. Itu bisa dilakukan dengan memberi insentif kepada industri dengan pencemaran lingkungan rendah. Bisa juga intervensi fiskal dengan menerapkan pajak terhadap bahan bakar terutama bensin

aku-dan-charles2.jpg>> Ini aku lagi nyuri kesempatan foto bareng Charles Humphrey (Dubes Inggris untuk Indonesia) saat meninjau hutan adat Desa Guguk

Jadi mengurangi emisi karbon dan menyelamatkan hutan, sudah dilakukan masyarakat. Mereka yang jauh dari hingar bingar dunia yang memproduksi emisi karbon. Parahnya lagi menurut Stern dampak perubahan iklim yang terjadi di muka bumi, akan paling dirasakan oleh masyarakat miskin. Kenyataannya masyarakat miskin selama ini masih didiminasi oleh mereka yang tinggal di dalam dan sekitar hutan. Masih menurut Stern perubahan iklim ini juga akan mengancam ketahanan pangan. Hal ini karena kenyataan hingga saat ini kita masih sangat bergantung ke sektor pertanian, sektor yang sangat sensitif dengan perubahan iklim.

Jadi marilah kita mulai upaya dan mengambil sikap untuk menyelamatkan hutan, mengurangi pemakaian benda-benda yang meningkatkan emisi karbon. Semoga bumi kita bisa selamat dan anak cucu kita bisa hidup dengan lebih baik, bukannya hidup dalam penderitaan akibat terjadinya pemanasan global. Save our forest.(*)


Responses

  1. wah mantap jugo blog ibu dari anak manis ini.. hehehe… ternyata ibu ini haby nulis jugo yo.. da bakat jurnalisnyo bisa di curahkan kedalam blog ini… sekalian sy mengundang ibu untuk mengunjungi blog kami anak merangin :

    http://meranginjambi.blogspot.com

  2. salam lestari……
    kalau bisa jangan cukup melihat di hutan adat desa gagak tapi lihat kenyataannya bahwa hutan di jambi sudah banyak yang gundul..bagaimana tindakan kita supaya hutan ini tidak gundul???jawabanya hanya pada diri kita sendiri..


Leave a response

Your response:

Categories