Posted by: sukmareni | April 4, 2007

Salut untuk Warga Lubuk Beringin

model-pltka.jpg

Gemericik air sungai yang jernih mengundang minat untuk menceburkan diri ke Sungai Buat yang mengalir dipinggiran Desa Lubuk Beringin. Anak Sungai Batang Bungo yang berhulu ke hutan di Taman Nasional Kerinci Seblat itu, telah memberi manfaat yang luar biasa untuk masyarakat Desa. Tidak hanya untuk kebutuhan MCK, sungai yang itu juga dimanfaatkan masyarakat Desa untuk pembangkit listrik. Mikro hidro sederhana. Masyarakat Desa mengalirkan air sungai menuju kincir air yang akan memutar kincir untuk menggerakkan turbin pembangkit tenaga listrik.

Masyarakat setempat menyebutnya dengan PLTKA (Pembangkit Listrik Tenaga Kincir Air). Dari dua PLTKA yang ada di desa yang berjarak sekitar 50 km dari Kota Muaro Bungo itu, mampu menerangi 45 rumah dari lebih kurang 69 rumah yang terdapat di desa yang masuk IDT kategori miskin itu, dengan daya 5000 watt. ”Ya kami sangat tertolong dengan adanya PLTKA ini, kami menikmati listrik yang selama ini sangat jauh dari harapan kami,”kata Najmi salah satu warga desa Lubuk Beringin.

Bagi ayah 5 anak ini, listrik selain memberikan penerangan keluarga, juga mengirit pengeluarannya. Sebelum PLTKA aktif pada September 2006 masyarakat menggunakan lampu togo—lampu minyak yang mirib bom molotov–. Untuk menyalakan togo, masyarakat menggunakan minyak tanah. Harga minyak tanah ke desa yang hanya bisa kendaraan roda dua ini, harganya sangat mahal satu botol minyak tanah (botol yang digunakan bekas botol sirup ukuran 630 ml) masyarakat harus merogoh kocek Rp 5 ribu. Sebotol itu hanya tahan digunakan untuk dua malam saja. Jadi bisa diasumsikan dalam satu bulan pengeluaran masing-masing rumah sekitar Rp 150 ribu per bulan. Sedangkan dengan menggunakan PLTKA, masing-masing rumah yang dialiri listrik ini hanya di pungut Rp 10.000 per bulan.

”Kami sangat tertolong, karena harganya sangat murah dan bersih lagi,”sebut Najmi. Bersih maksudnya di sini, karena togo akan menghasilkan jelaga dan lama kelamaan akan membuat warna rumah dan kain yang tergantung menguning, selain itu juga di pagi hari lubang hidung akan berwarna hitam.

”Anak-anak juga senang karena mereka bisa belajar di malam hari,”kata pria yang memasang tiga bohlam hemat energi di rumahnya. Hanya saja keinginan Najmi dan keluarga untuk bisa menonton televisi masih harus ditahannya.

”Ya saya sudah beli tipi-nya (maksudnya televisi) tapi kadang listrinya tidak kuat, kadang bisa kadang tidak,”kata Najmi. Ya moga aja nanti ketika kapasitas PLTKA-nya meningkat dan menghasilkan daya yang lebih banyak masyarakat Lubuk Beringin dapat menikmati aliran listrik dan juga bisa mengetahui kejadian di luar mereka secara lebih cepat. Selain itu hiburan dari televisi mungkin juga bisa mereka nikmati.

Satu hal yang mengundang kesalutan kita untuk masyarakat Lubuk Beringin, meski masih terkategori miskin, masyarakat tetap hidup bersahaja dan melindungi hutan mereka. Bahkan pola perkebunan yang mereka terapkan pun merupakan perkebunan ramah lingkungan. Masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup dari kebun karet. Setiap keluarga memiliki kebun karet luasnya bervariasi. Najmi misalnya memiliki setengah hektar kebun karet. Tumbuhan yang hidup disini bukan hanya karet tapi juga hidup tumbuhan lain yang bernilai ekonomis seperti buah-buahan. ”Hasil sadapan cukup lumayan lah, sebulan bisa mencapai Rp 500.000 ribu, dengan harga karet saat ini Rp 7.000/kg.

Kebun karet campur yang dikemabangkan masyarakat Lubuk Beringin telah menjadi perekat antara masyarakat dan hutan. Kebun karet campur mempunyai fungsi mirip hutan alam yaitu sebagai daerah tangkapan air yang akan menjadi sumber air untuk sungai Batang Buat dan kemudian air sungai ini dimanfaatkan untuk menggerakkan kincir yang akan memutar turbin pembangkit litrik yang akan menerangi rumah masyarakat. Waow kreatifkan mereka. Jauh dari fasilitas umum, bukan berarti mereka tidak bisa menikmati terangnya listrik. Dengan kearifan menjaga hutan, keuntungan tidak hanya buat masyarakat desa LUbuk Beringin, tapi juga masyarakat lainnya di Jambi yang berada di wilayah hilir. Salut buat mereka yang gigih menjaga hutannya.(*)


Responses

  1. cool blog, coy. teruslah menjadi blogger selagi masih bisa menulis. salam lestari juga…

  2. makaseh-makaseh. thanks bantuan dan dorongannya

  3. Blog cukup bagus, kreatifitas yang mantap. Akan lebih baik kalau dikomunikasikan keteman-teman sehingga banyak yang akses.

  4. makasih Kang udah mampir, ya boleh juga di halo halokan nih.

  5. wah meskipun kesannya sederhana cukuplah.

  6. Assalamu’alaikum

    Ya salut atas perjuangan bapak-bapak sekalian, saya juga berkeinginan untuk mengembangkan PLTMH tersebut, Yang saya tanyakan bagaimana sumber pendanaan untuk pembuatan PLTMH tersebut itu didapat…Mohon penjelasannya

    Wassalamu;alaikum

    Arifudin
    arifudin@mitra.net.id
    magig@yahoo.com
    abrisam@telkom.net

  7. asli kerenz banget ide PLTKA yang dibuat pasti didasari dengan pemikiran yang hebat dan keinginan untuk memajukan daerahnya.,.,”
    1.saya juga ingin tanyakan apabila PLTKA dibuat dari sumber air buatan(kolam air) walaupun hanya menghasilkan rpm yang kecil, tetapi dapat menghasilkan listrik 220v.,.,”
    2. kincir yang bagus sebaiknya dengan model apa.,.”
    3. bisa minta no tlp yg bisa dihubungi?
    4. saya akan coba untuk mengaplikasikan PLTKA dijadikan untuk sumber listrik (dispenser) mungkin dengan ditambahkan mikro contoler.,.<! untuk tugas akhir.,,.,!

  8. gw baru2 ni KUKERTA di desa lubuk beringin…
    wuiiihhh…keren banget..
    menurutku ni desa bener2 desa yang mandiri banget.
    di tengah2penderitaan yang dialami (bukannya mendramatisir lho)
    misalnya aj, di desa laman panjang yang jaraknya cuma bebberapa puluh meter dari LUBER ud ad PLn, tp di LUBER sama sekali blm terjamah oleh PLN.. maka dari itu warga denagn serta merta membangun sebuah PLTKA.. kerennn bgt dehhh
    SALUT BUAT LUBUK BERINGIN
    CAYOOOOO….!!!!!!!!
    SEMANGAAAAAAAAAAAAAAATTTTTTTTTTTTTTTT
    I’LL MISS U

  9. mbak,,bisa gak tolong saya. minta data yang lengkap dunk mengenai
    1.debit sungai Buat
    2.turbin yang digunakan jenis apa
    3.apa yang menyebabkan daya turbin masih rendah
    tolong banget y mbak,penting banget untuk tugas metodologi fisika UNJA.
    makasih sebelumnya y mbak..

  10. mbak,,tolong dunk minta datanya.
    alamat emAILq http://www.cancer_smile03@yahoo.co.id
    plizzz bget mbak,,tugasnya dah mepet bget

  11. wew itu cukup menarikbisa buat tugas sekolah
    kalu saya beri nilai ini adalah:B+

  12. Mat pagi semuanya….
    Saya dimedan, tolong dong berikan alamat
    dikota saya yang bisa membuatkan/mengajarkan
    teknik pembuatan hydroelektrik atau
    pembangkit listrik micro hydro ini.
    Thank’s banget..
    travel@mutiaraholidays.com

  13. hebat…banget
    saya juga sedang ngembangkan mikrohidro dan mikroaero di tempat saya, Jawa Timur. Kalo boleh sharing pakai generator specifikasi apa, dan debit airnya seberapa? krn pd beberapa referensi sejenis pernah kami coba kok power nya gak seberapa besar tapi ditempat mbak kok lumayan
    makasih….

  14. [...] Gemericik air sungai yang jernih mengundang minat untuk menceburkan diri ke Sungai Buat yang mengalir dipinggiran Desa Lubuk Beringin. Anak Sungai Batang Bungo yang berhulu ke hutan di Taman Nasional Kerinci Seblat itu, telah memberi manfaat yang luar biasa untuk masyarakat Desa. Tidak hanya untuk kebutuhan MCK, sungai yang itu juga dimanfaatkan masyarakat Desa untuk pembangkit listrik. Mikro hidro sederhana. Masyarakat Desa mengalirkan air sungai menuju kincir air yang akan memutar kincir untuk menggerakkan turbin pembangkit tenaga listrik. Masyarakat setempat menyebutnya dengan PLTKA (Pembangkit Listrik Tenaga Kincir Air). Dari dua PLTKA yang ada di desa yang berjarak sekitar 50 km dari Kota Muaro Bungo itu, mampu menerangi 45 rumah dari lebih kurang 69 rumah yang terdapat di desa yang masuk IDT kategori miskin itu, dengan daya 5000 watt. ”Ya kami sangat tertolong dengan adanya PLTKA ini, kami menikmati listrik yang selama ini sangat jauh dari harapan kami,”kata Najmi salah satu warga desa Lubuk Beringin. Bagi ayah 5 anak ini, listrik selain memberikan penerangan keluarga, juga mengirit pengeluarannya. Sebelum PLTKA aktif pada September 2006 masyarakat menggunakan lampu togo—lampu minyak yang mirib bom molotov–. Untuk menyalakan togo, masyarakat menggunakan minyak tanah. Harga minyak tanah ke desa yang hanya bisa kendaraan roda dua ini, harganya sangat mahal satu botol minyak tanah (botol yang digunakan bekas botol sirup ukuran 630 ml) masyarakat harus merogoh kocek Rp 5 ribu. Sebotol itu hanya tahan digunakan untuk dua malam saja. Jadi bisa diasumsikan dalam satu bulan pengeluaran masing-masing rumah sekitar Rp 150 ribu per bulan. Sedangkan dengan menggunakan PLTKA, masing-masing rumah yang dialiri listrik ini hanya di pungut Rp 10.000 per bulan. ”Kami sangat tertolong, karena harganya sangat murah dan bersih lagi,”sebut Najmi. Bersih maksudnya di sini, karena togo akan menghasilkan jelaga dan lama kelamaan akan membuat warna rumah dan kain yang tergantung menguning, selain itu juga di pagi hari lubang hidung akan berwarna hitam. ”Anak-anak juga senang karena mereka bisa belajar di malam hari,”kata pria yang memasang tiga bohlam hemat energi di rumahnya. Hanya saja keinginan Najmi dan keluarga untuk bisa menonton televisi masih harus ditahannya. ”Ya saya sudah beli tipi-nya (maksudnya televisi) tapi kadang listrinya tidak kuat, kadang bisa kadang tidak,”kata Najmi. Ya moga aja nanti ketika kapasitas PLTKA-nya meningkat dan menghasilkan daya yang lebih banyak masyarakat Lubuk Beringin dapat menikmati aliran listrik dan juga bisa mengetahui kejadian di luar mereka secara lebih cepat. Selain itu hiburan dari televisi mungkin juga bisa mereka nikmati. Satu hal yang mengundang kesalutan kita untuk masyarakat Lubuk Beringin, meski masih terkategori miskin, masyarakat tetap hidup bersahaja dan melindungi hutan mereka. Bahkan pola perkebunan yang mereka terapkan pun merupakan perkebunan ramah lingkungan. Masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup dari kebun karet. Setiap keluarga memiliki kebun karet luasnya bervariasi. Najmi misalnya memiliki setengah hektar kebun karet. Tumbuhan yang hidup disini bukan hanya karet tapi juga hidup tumbuhan lain yang bernilai ekonomis seperti buah-buahan. ”Hasil sadapan cukup lumayan lah, sebulan bisa mencapai Rp 500.000 ribu, dengan harga karet saat ini Rp 7.000/kg. Kebun karet campur yang dikemabangkan masyarakat Lubuk Beringin telah menjadi perekat antara masyarakat dan hutan. Kebun karet campur mempunyai fungsi mirip hutan alam yaitu sebagai daerah tangkapan air yang akan menjadi sumber air untuk sungai Batang Buat dan kemudian air sungai ini dimanfaatkan untuk menggerakkan kincir yang akan memutar turbin pembangkit litrik yang akan menerangi rumah masyarakat. Waow kreatifkan mereka. Jauh dari fasilitas umum, bukan berarti mereka tidak bisa menikmati terangnya listrik. Dengan kearifan menjaga hutan, keuntungan tidak hanya buat masyarakat desa LUbuk Beringin, tapi juga masyarakat lainnya di Jambi yang berada di wilayah hilir. Salut buat mereka yang gigih menjaga hutannya.(*) Sumber : http://rimbaraya.wordpress.com/2007/04/04/salut-untuk-masyarakat-lubuk-beringin/ [...]

  15. mohon informasi dimana saya bisa dapat lebih mendetail mengenai pembuatan PLTA ini, makalah dan gambar juga hal-hal yang mendukung hingga kami bisa mendirikannya
    Saya di Medan.
    Terimakasih.

  16. salam kenal…
    pertama saya salut dengan penemuan teknoogi ini dan saya juga tertarik untuk bisa membuat hal serupa ( meskipun saya sama sekali nggak paham secara teorinya/ilmunya)…bisakah orang seperti saya (orang awam)dapat memahami cara pembuatan PLTKA sehingga dapat di praktekkan???…..
    Dan kalo saya lihat dari sekilas gambar di atas,bahwa listrik yang di peroleh/dihasilkan itu karena hasil dari putaran kincir yg di gerakkan oleh air yg mengalir ,bukan begitu????apakah kecepatan putaran kincir berpengaruh terhadap hasil listrik yang di peroleh??……Kalau ada pengaruhnya,”USULAN”bzrzngkzli ke depannya bisa di kombinasikan dengan kincir angin…sehingga bisa mendapatkan putaran yang lebih besar………Thank’s

  17. salam kenal…
    mohon informasinya biaya untuk mendirikan PLTK ini habis berapa ya???

  18. info ini sangat berarti karena sya akan memikirhannya untuk desa saya

  19. mbak yang baek, hatiku terkesan membaca artikel mbak ni. semangat teknologi desa yang jauh dari peradaban kota…
    sesungguhnya masih bisa ditambahkan rangkaian converter dan inverter biar masyarakat dapat nonton TV saban harinya….
    Mari kita membangun desa

  20. bakrie yang baek, coba deh hubungi id aq nih…teho71@yahoo.com…aq online saban hari…biar kita saling tukar informasi….lho dimedan dimana…aq asal Padangsidimpuan lho

  21. gimana sistem kerja dari PLTK Air, alat yang dibituhkan apa saja?bagaimana cara pemasangannya?apa bisa dengan aliran sungai yang kecil(debit air sedikit) tapi berarus deras dengan kemringan kurang lebih 30 derajat?bila bisa akan kucoba didaerah saya yang tidak teraliri listrik.thanks

  22. TUK GENERATOR/DINAMO PAKAI YANG APA?(SPESIFIKASINYA GENERATOR, DAYA YANG DIHASILKAN)BISA NDAK PAKAI GENERATOR/DINAMO YANG BIASA DIPAKAI MASYARAKAT UNTUK SELEP KELAPA(DINAMO KECIL UKURAN 1 HP)

  23. ass.wr.wb
    salam kenal dari saya,mukhlis adam di bontang…
    saya salut dengan apa yg telah ibu lakukan…

    saat ini saya tertarik dengan pmbkit listrik mini spt yg ibu kembangkan….bagaimana agar saya bisa mendapat DATA Kalkulasi desain PLTKA yg ibu rancang, mohon hub saya di mukhlis_matrice99@yahoo.com

    terima kasih atas bantuannya, semoga kita bisa bermanfaat untuk masyarakat.

    was.wr.wb.

  24. waw,,,,
    pantasan aja,,,PANGERAN CHARLES,,kesana,,,
    cozZ,, kreatif banget,,,ya,,,untuk memajukan desanya,,

    tapi aku ga tau,,,dimana lubuk beringin…
    padahal aku orang bungo…
    emangnya lubuk beringin dimana sich????
    kalo ada yang tau,,,
    kasi tau aku ya,,,di YM: andre_rianda@yahoo.com
    makasih

  25. hutan harapan emang di jambi,
    tapi kayaknya agak jauh deh dari desa lubuk beringin yang di kab bungo itu.

    anyway, setikdanya jambi jadi terkenal deh:)

  26. wouuuuuuuw kren cuy…
    engineeringnye bagus banget ntuh…

    boleh tau sistim kerja dan alat pa aja yang mendukung sistimasi PLTA itu ga…???
    kalau boleh sharing dong ke alamat email saya.

    andelimoetzt@yahoo.co.id
    engineering junior indonesia comunity.

  27. Salam kreatif,
    Teruslah berkreatifitas,karena hasil karya dapa memebrikan kesejahteraan bagi orang lain dan mendapat berkat-Nya
    Mas kalau di daerah saya ada potensi mikrrohidro gimana saya bisa kontak dengan mas dan kira-kira mas mau ngak ya membantu saya secara teknis?

  28. Saya tertarik melihat artikel ttg sistem pembangkiy listrik tenaga kincir air.
    Saya membutuhkan data ttg pembiayaan secara rinci nya.
    Mohon konfermasinya.trim’s

  29. aku orang lubuk beringin mbak ,makasih lho
    ud maparin Desa saya.

  30. Mbak bisa minta data PLTKA yang lengkap dong, untuk penelitian sekalian saya juga berencana untuk membuat PLTA di desa saya.
    kirimkan melalui email saya putramalokos@yahoo.com
    tolomg ya mbak…………

  31. ass wr wb…

    di lokasi kami curug cimahi, kami akan set up objek wisata, supaya lebih menarik dan bermanfaat bagi masyarakat kami juga inginkan membuat hidrolistrik, bagaimana saya mendapatkan info lebih lengkap- trims

  32. Klo untuk pendanaannya menghabiskan berapa ya Bu? apakah saya bisa minta RAB-nya, saya ingin membuat listrik mikrohidro di desa sini

  33. Go..ni reni go….bagi carito jo pangalaman di jambinyo yo..salam tuak kawan2 di warsi…


Leave a response

Your response:

Categories