
Gemericik air sungai yang jernih mengundang minat untuk menceburkan diri ke Sungai Buat yang mengalir dipinggiran Desa Lubuk Beringin. Anak Sungai Batang Bungo yang berhulu ke hutan di Taman Nasional Kerinci Seblat itu, telah memberi manfaat yang luar biasa untuk masyarakat Desa. Tidak hanya untuk kebutuhan MCK, sungai yang itu juga dimanfaatkan masyarakat Desa untuk pembangkit listrik. Mikro hidro sederhana. Masyarakat Desa mengalirkan air sungai menuju kincir air yang akan memutar kincir untuk menggerakkan turbin pembangkit tenaga listrik.
Masyarakat setempat menyebutnya dengan PLTKA (Pembangkit Listrik Tenaga Kincir Air). Dari dua PLTKA yang ada di desa yang berjarak sekitar 50 km dari Kota Muaro Bungo itu, mampu menerangi 45 rumah dari lebih kurang 69 rumah yang terdapat di desa yang masuk IDT kategori miskin itu, dengan daya 5000 watt. ”Ya kami sangat tertolong dengan adanya PLTKA ini, kami menikmati listrik yang selama ini sangat jauh dari harapan kami,”kata Najmi salah satu warga desa Lubuk Beringin.
Bagi ayah 5 anak ini, listrik selain memberikan penerangan keluarga, juga mengirit pengeluarannya. Sebelum PLTKA aktif pada September 2006 masyarakat menggunakan lampu togo—lampu minyak yang mirib bom molotov–. Untuk menyalakan togo, masyarakat menggunakan minyak tanah. Harga minyak tanah ke desa yang hanya bisa kendaraan roda dua ini, harganya sangat mahal satu botol minyak tanah (botol yang digunakan bekas botol sirup ukuran 630 ml) masyarakat harus merogoh kocek Rp 5 ribu. Sebotol itu hanya tahan digunakan untuk dua malam saja. Jadi bisa diasumsikan dalam satu bulan pengeluaran masing-masing rumah sekitar Rp 150 ribu per bulan. Sedangkan dengan menggunakan PLTKA, masing-masing rumah yang dialiri listrik ini hanya di pungut Rp 10.000 per bulan.
”Kami sangat tertolong, karena harganya sangat murah dan bersih lagi,”sebut Najmi. Bersih maksudnya di sini, karena togo akan menghasilkan jelaga dan lama kelamaan akan membuat warna rumah dan kain yang tergantung menguning, selain itu juga di pagi hari lubang hidung akan berwarna hitam.
”Anak-anak juga senang karena mereka bisa belajar di malam hari,”kata pria yang memasang tiga bohlam hemat energi di rumahnya. Hanya saja keinginan Najmi dan keluarga untuk bisa menonton televisi masih harus ditahannya.
”Ya saya sudah beli tipi-nya (maksudnya televisi) tapi kadang listrinya tidak kuat, kadang bisa kadang tidak,”kata Najmi. Ya moga aja nanti ketika kapasitas PLTKA-nya meningkat dan menghasilkan daya yang lebih banyak masyarakat Lubuk Beringin dapat menikmati aliran listrik dan juga bisa mengetahui kejadian di luar mereka secara lebih cepat. Selain itu hiburan dari televisi mungkin juga bisa mereka nikmati.
Satu hal yang mengundang kesalutan kita untuk masyarakat Lubuk Beringin, meski masih terkategori miskin, masyarakat tetap hidup bersahaja dan melindungi hutan mereka. Bahkan pola perkebunan yang mereka terapkan pun merupakan perkebunan ramah lingkungan. Masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup dari kebun karet. Setiap keluarga memiliki kebun karet luasnya bervariasi. Najmi misalnya memiliki setengah hektar kebun karet. Tumbuhan yang hidup disini bukan hanya karet tapi juga hidup tumbuhan lain yang bernilai ekonomis seperti buah-buahan. ”Hasil sadapan cukup lumayan lah, sebulan bisa mencapai Rp 500.000 ribu, dengan harga karet saat ini Rp 7.000/kg.
Kebun karet campur yang dikemabangkan masyarakat Lubuk Beringin telah menjadi perekat antara masyarakat dan hutan. Kebun karet campur mempunyai fungsi mirip hutan alam yaitu sebagai daerah tangkapan air yang akan menjadi sumber air untuk sungai Batang Buat dan kemudian air sungai ini dimanfaatkan untuk menggerakkan kincir yang akan memutar turbin pembangkit litrik yang akan menerangi rumah masyarakat. Waow kreatifkan mereka. Jauh dari fasilitas umum, bukan berarti mereka tidak bisa menikmati terangnya listrik. Dengan kearifan menjaga hutan, keuntungan tidak hanya buat masyarakat desa LUbuk Beringin, tapi juga masyarakat lainnya di Jambi yang berada di wilayah hilir. Salut buat mereka yang gigih menjaga hutannya.(*)





cool blog, coy. teruslah menjadi blogger selagi masih bisa menulis. salam lestari juga…
By: j.rizal on April 4, 2007
at 5:01 pm
makaseh-makaseh. thanks bantuan dan dorongannya
By: me on April 5, 2007
at 8:59 am
Blog cukup bagus, kreatifitas yang mantap. Akan lebih baik kalau dikomunikasikan keteman-teman sehingga banyak yang akses.
By: akang on June 23, 2007
at 9:43 am
makasih Kang udah mampir, ya boleh juga di halo halokan nih.
By: ren on June 29, 2007
at 2:59 pm
wah meskipun kesannya sederhana cukuplah.
By: Boston on September 5, 2007
at 11:25 am
Assalamu’alaikum
Ya salut atas perjuangan bapak-bapak sekalian, saya juga berkeinginan untuk mengembangkan PLTMH tersebut, Yang saya tanyakan bagaimana sumber pendanaan untuk pembuatan PLTMH tersebut itu didapat…Mohon penjelasannya
Wassalamu;alaikum
Arifudin
arifudin@mitra.net.id
magig@yahoo.com
abrisam@telkom.net
By: Abrisam on October 4, 2007
at 10:23 am
asli kerenz banget ide PLTKA yang dibuat pasti didasari dengan pemikiran yang hebat dan keinginan untuk memajukan daerahnya.,.,”
1.saya juga ingin tanyakan apabila PLTKA dibuat dari sumber air buatan(kolam air) walaupun hanya menghasilkan rpm yang kecil, tetapi dapat menghasilkan listrik 220v.,.,”
2. kincir yang bagus sebaiknya dengan model apa.,.”
3. bisa minta no tlp yg bisa dihubungi?
4. saya akan coba untuk mengaplikasikan PLTKA dijadikan untuk sumber listrik (dispenser) mungkin dengan ditambahkan mikro contoler.,.<! untuk tugas akhir.,,.,!
By: bowo on October 5, 2007
at 12:59 am
gw baru2 ni KUKERTA di desa lubuk beringin…
wuiiihhh…keren banget..
menurutku ni desa bener2 desa yang mandiri banget.
di tengah2penderitaan yang dialami (bukannya mendramatisir lho)
misalnya aj, di desa laman panjang yang jaraknya cuma bebberapa puluh meter dari LUBER ud ad PLn, tp di LUBER sama sekali blm terjamah oleh PLN.. maka dari itu warga denagn serta merta membangun sebuah PLTKA.. kerennn bgt dehhh
SALUT BUAT LUBUK BERINGIN
CAYOOOOO….!!!!!!!!
SEMANGAAAAAAAAAAAAAAATTTTTTTTTTTTTTTT
I’LL MISS U
By: debbye on October 8, 2007
at 10:19 am
mbak,,bisa gak tolong saya. minta data yang lengkap dunk mengenai
1.debit sungai Buat
2.turbin yang digunakan jenis apa
3.apa yang menyebabkan daya turbin masih rendah
tolong banget y mbak,penting banget untuk tugas metodologi fisika UNJA.
makasih sebelumnya y mbak..
By: rikma fitrialeni darlen on November 10, 2007
at 1:50 pm
mbak,,tolong dunk minta datanya.
alamat emAILq http://www.cancer_smile03@yahoo.co.id
plizzz bget mbak,,tugasnya dah mepet bget
By: rikma on November 13, 2007
at 9:44 am
wew itu cukup menarikbisa buat tugas sekolah
kalu saya beri nilai ini adalah:B+
By: Wailul on November 21, 2007
at 8:06 pm
Mat pagi semuanya….
Saya dimedan, tolong dong berikan alamat
dikota saya yang bisa membuatkan/mengajarkan
teknik pembuatan hydroelektrik atau
pembangkit listrik micro hydro ini.
Thank’s banget..
travel@mutiaraholidays.com
By: St. Midian Ritonga, SE on November 29, 2007
at 11:06 am
hebat…banget
saya juga sedang ngembangkan mikrohidro dan mikroaero di tempat saya, Jawa Timur. Kalo boleh sharing pakai generator specifikasi apa, dan debit airnya seberapa? krn pd beberapa referensi sejenis pernah kami coba kok power nya gak seberapa besar tapi ditempat mbak kok lumayan
makasih….
By: Totok on December 27, 2007
at 8:52 pm
[...] Gemericik air sungai yang jernih mengundang minat untuk menceburkan diri ke Sungai Buat yang mengalir dipinggiran Desa Lubuk Beringin. Anak Sungai Batang Bungo yang berhulu ke hutan di Taman Nasional Kerinci Seblat itu, telah memberi manfaat yang luar biasa untuk masyarakat Desa. Tidak hanya untuk kebutuhan MCK, sungai yang itu juga dimanfaatkan masyarakat Desa untuk pembangkit listrik. Mikro hidro sederhana. Masyarakat Desa mengalirkan air sungai menuju kincir air yang akan memutar kincir untuk menggerakkan turbin pembangkit tenaga listrik. Masyarakat setempat menyebutnya dengan PLTKA (Pembangkit Listrik Tenaga Kincir Air). Dari dua PLTKA yang ada di desa yang berjarak sekitar 50 km dari Kota Muaro Bungo itu, mampu menerangi 45 rumah dari lebih kurang 69 rumah yang terdapat di desa yang masuk IDT kategori miskin itu, dengan daya 5000 watt. ”Ya kami sangat tertolong dengan adanya PLTKA ini, kami menikmati listrik yang selama ini sangat jauh dari harapan kami,”kata Najmi salah satu warga desa Lubuk Beringin. Bagi ayah 5 anak ini, listrik selain memberikan penerangan keluarga, juga mengirit pengeluarannya. Sebelum PLTKA aktif pada September 2006 masyarakat menggunakan lampu togo—lampu minyak yang mirib bom molotov–. Untuk menyalakan togo, masyarakat menggunakan minyak tanah. Harga minyak tanah ke desa yang hanya bisa kendaraan roda dua ini, harganya sangat mahal satu botol minyak tanah (botol yang digunakan bekas botol sirup ukuran 630 ml) masyarakat harus merogoh kocek Rp 5 ribu. Sebotol itu hanya tahan digunakan untuk dua malam saja. Jadi bisa diasumsikan dalam satu bulan pengeluaran masing-masing rumah sekitar Rp 150 ribu per bulan. Sedangkan dengan menggunakan PLTKA, masing-masing rumah yang dialiri listrik ini hanya di pungut Rp 10.000 per bulan. ”Kami sangat tertolong, karena harganya sangat murah dan bersih lagi,”sebut Najmi. Bersih maksudnya di sini, karena togo akan menghasilkan jelaga dan lama kelamaan akan membuat warna rumah dan kain yang tergantung menguning, selain itu juga di pagi hari lubang hidung akan berwarna hitam. ”Anak-anak juga senang karena mereka bisa belajar di malam hari,”kata pria yang memasang tiga bohlam hemat energi di rumahnya. Hanya saja keinginan Najmi dan keluarga untuk bisa menonton televisi masih harus ditahannya. ”Ya saya sudah beli tipi-nya (maksudnya televisi) tapi kadang listrinya tidak kuat, kadang bisa kadang tidak,”kata Najmi. Ya moga aja nanti ketika kapasitas PLTKA-nya meningkat dan menghasilkan daya yang lebih banyak masyarakat Lubuk Beringin dapat menikmati aliran listrik dan juga bisa mengetahui kejadian di luar mereka secara lebih cepat. Selain itu hiburan dari televisi mungkin juga bisa mereka nikmati. Satu hal yang mengundang kesalutan kita untuk masyarakat Lubuk Beringin, meski masih terkategori miskin, masyarakat tetap hidup bersahaja dan melindungi hutan mereka. Bahkan pola perkebunan yang mereka terapkan pun merupakan perkebunan ramah lingkungan. Masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup dari kebun karet. Setiap keluarga memiliki kebun karet luasnya bervariasi. Najmi misalnya memiliki setengah hektar kebun karet. Tumbuhan yang hidup disini bukan hanya karet tapi juga hidup tumbuhan lain yang bernilai ekonomis seperti buah-buahan. ”Hasil sadapan cukup lumayan lah, sebulan bisa mencapai Rp 500.000 ribu, dengan harga karet saat ini Rp 7.000/kg. Kebun karet campur yang dikemabangkan masyarakat Lubuk Beringin telah menjadi perekat antara masyarakat dan hutan. Kebun karet campur mempunyai fungsi mirip hutan alam yaitu sebagai daerah tangkapan air yang akan menjadi sumber air untuk sungai Batang Buat dan kemudian air sungai ini dimanfaatkan untuk menggerakkan kincir yang akan memutar turbin pembangkit litrik yang akan menerangi rumah masyarakat. Waow kreatifkan mereka. Jauh dari fasilitas umum, bukan berarti mereka tidak bisa menikmati terangnya listrik. Dengan kearifan menjaga hutan, keuntungan tidak hanya buat masyarakat desa LUbuk Beringin, tapi juga masyarakat lainnya di Jambi yang berada di wilayah hilir. Salut buat mereka yang gigih menjaga hutannya.(*) Sumber : http://rimbaraya.wordpress.com/2007/04/04/salut-untuk-masyarakat-lubuk-beringin/ [...]
By: Pembangkit Listrik Mikrohidro—-> 45 rumah [5000 watt] « Lembaga Kajian Creative on January 14, 2008
at 10:23 pm
mohon informasi dimana saya bisa dapat lebih mendetail mengenai pembuatan PLTA ini, makalah dan gambar juga hal-hal yang mendukung hingga kami bisa mendirikannya
Saya di Medan.
Terimakasih.
By: bakrie on February 12, 2008
at 1:32 am
salam kenal…
pertama saya salut dengan penemuan teknoogi ini dan saya juga tertarik untuk bisa membuat hal serupa ( meskipun saya sama sekali nggak paham secara teorinya/ilmunya)…bisakah orang seperti saya (orang awam)dapat memahami cara pembuatan PLTKA sehingga dapat di praktekkan???…..
Dan kalo saya lihat dari sekilas gambar di atas,bahwa listrik yang di peroleh/dihasilkan itu karena hasil dari putaran kincir yg di gerakkan oleh air yg mengalir ,bukan begitu????apakah kecepatan putaran kincir berpengaruh terhadap hasil listrik yang di peroleh??……Kalau ada pengaruhnya,”USULAN”bzrzngkzli ke depannya bisa di kombinasikan dengan kincir angin…sehingga bisa mendapatkan putaran yang lebih besar………Thank’s
By: imam on April 5, 2008
at 10:27 pm
salam kenal…
mohon informasinya biaya untuk mendirikan PLTK ini habis berapa ya???
By: eko on April 29, 2008
at 12:13 pm
info ini sangat berarti karena sya akan memikirhannya untuk desa saya
By: awen on May 31, 2008
at 4:31 am
mbak yang baek, hatiku terkesan membaca artikel mbak ni. semangat teknologi desa yang jauh dari peradaban kota…
sesungguhnya masih bisa ditambahkan rangkaian converter dan inverter biar masyarakat dapat nonton TV saban harinya….
Mari kita membangun desa
By: Syamsul on June 6, 2008
at 11:53 am
bakrie yang baek, coba deh hubungi id aq nih…teho71@yahoo.com…aq online saban hari…biar kita saling tukar informasi….lho dimedan dimana…aq asal Padangsidimpuan lho
By: Syamsul on June 6, 2008
at 11:59 am
gimana sistem kerja dari PLTK Air, alat yang dibituhkan apa saja?bagaimana cara pemasangannya?apa bisa dengan aliran sungai yang kecil(debit air sedikit) tapi berarus deras dengan kemringan kurang lebih 30 derajat?bila bisa akan kucoba didaerah saya yang tidak teraliri listrik.thanks
By: yoshi on July 5, 2008
at 2:01 pm
TUK GENERATOR/DINAMO PAKAI YANG APA?(SPESIFIKASINYA GENERATOR, DAYA YANG DIHASILKAN)BISA NDAK PAKAI GENERATOR/DINAMO YANG BIASA DIPAKAI MASYARAKAT UNTUK SELEP KELAPA(DINAMO KECIL UKURAN 1 HP)
By: YOSHI on July 5, 2008
at 2:28 pm
ass.wr.wb
salam kenal dari saya,mukhlis adam di bontang…
saya salut dengan apa yg telah ibu lakukan…
saat ini saya tertarik dengan pmbkit listrik mini spt yg ibu kembangkan….bagaimana agar saya bisa mendapat DATA Kalkulasi desain PLTKA yg ibu rancang, mohon hub saya di mukhlis_matrice99@yahoo.com
terima kasih atas bantuannya, semoga kita bisa bermanfaat untuk masyarakat.
was.wr.wb.
By: mukhlis adam on July 29, 2008
at 8:15 pm
waw,,,,
pantasan aja,,,PANGERAN CHARLES,,kesana,,,
cozZ,, kreatif banget,,,ya,,,untuk memajukan desanya,,
tapi aku ga tau,,,dimana lubuk beringin…
padahal aku orang bungo…
emangnya lubuk beringin dimana sich????
kalo ada yang tau,,,
kasi tau aku ya,,,di YM: andre_rianda@yahoo.com
makasih
By: andre rianda on November 1, 2008
at 9:18 pm
hutan harapan emang di jambi,
tapi kayaknya agak jauh deh dari desa lubuk beringin yang di kab bungo itu.
anyway, setikdanya jambi jadi terkenal deh:)
By: iip on November 3, 2008
at 8:48 am
wouuuuuuuw kren cuy…
engineeringnye bagus banget ntuh…
boleh tau sistim kerja dan alat pa aja yang mendukung sistimasi PLTA itu ga…???
kalau boleh sharing dong ke alamat email saya.
andelimoetzt@yahoo.co.id
engineering junior indonesia comunity.
By: ande on November 21, 2008
at 9:04 am
Salam kreatif,
Teruslah berkreatifitas,karena hasil karya dapa memebrikan kesejahteraan bagi orang lain dan mendapat berkat-Nya
Mas kalau di daerah saya ada potensi mikrrohidro gimana saya bisa kontak dengan mas dan kira-kira mas mau ngak ya membantu saya secara teknis?
By: lihan on December 9, 2008
at 4:18 pm
Saya tertarik melihat artikel ttg sistem pembangkiy listrik tenaga kincir air.
Saya membutuhkan data ttg pembiayaan secara rinci nya.
Mohon konfermasinya.trim’s
By: didie on January 17, 2009
at 7:22 pm
aku orang lubuk beringin mbak ,makasih lho
ud maparin Desa saya.
By: al jupri on May 20, 2009
at 4:28 pm
Mbak bisa minta data PLTKA yang lengkap dong, untuk penelitian sekalian saya juga berencana untuk membuat PLTA di desa saya.
kirimkan melalui email saya putramalokos@yahoo.com
tolomg ya mbak…………
By: Putra on June 1, 2009
at 1:12 pm
ass wr wb…
di lokasi kami curug cimahi, kami akan set up objek wisata, supaya lebih menarik dan bermanfaat bagi masyarakat kami juga inginkan membuat hidrolistrik, bagaimana saya mendapatkan info lebih lengkap- trims
By: De Maulana Anggakarti on August 7, 2009
at 9:10 am
Klo untuk pendanaannya menghabiskan berapa ya Bu? apakah saya bisa minta RAB-nya, saya ingin membuat listrik mikrohidro di desa sini
By: kandil sasmita on September 29, 2009
at 10:01 am
Go..ni reni go….bagi carito jo pangalaman di jambinyo yo..salam tuak kawan2 di warsi…
By: muhammad ridha on November 17, 2009
at 2:43 pm