Sebutan Kubu kadung terlanjur dimaknai sebagai sesuatu yang bodoh dan terkebelakang. Paling tidak begitulah pemaknaan kata kubu ketika kita berada di Jambi. So jangan heran jika ada orang-orang di Jambi menyebut kawannya dengan sebutan kubu, ketika dia memandang kawannya tersebut bodoh dalam melakukan sesuatu.
Sebutan kubu di Jambi sebenarnya ditujukan untuk Orang Rimba yang hidup di pedalama hutan di Provinsi Jambi. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh KKI Warsi pada tahun 2004 populasi Orang Rimba atau yang sering disebut kubu di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) sejumlah 1.327 jiwa. Jumlah ini tidak jauh beda jika dibandingkan dengan survey yang dilakukan pada tahun 1999 lalu.
Stabilnya jumlah Orang Rimba, disebabkan salah satunya keberhasilan mereka menjaga jarak kelahiran. Uniknya lagi untuk menjaga jarak kelahiran mereka tanpa menggunakan alat kontrasepsi seperti yang lazim dilakukan pasangan usia subur. Orang Rimba dalam menjaga jarak kelahirannya, memang memantangkan melakukan hubungan intim ketika anak mereka masih dalam susuan.
Masa itu bisa berlangsung sampai empat tahun. Uniknya lagi kaum lelaki pria tidak akan melakukan perselingkuhan dengan perempuan lain untuk memenuhi kebutuhan seks mereka. Bagi mereka perempuan sangat terhormat dan sangat wajib dilindungi. Jadi ketika istri melahirkan suami wajib untuk menjaga dan memenuhi kebutuhan lahirnya dan wajib juga untuk ’puasa’ seks. Dan itu sudah biasa bagi mereka. Dan dipatuhi. Padahal dilihat dari kehidupan mereka Orang Rimba tinggal di dalam hutan, tanpa rumah yang memadai (untuk ukuran orang kebanyakan di luar komunitas Orang Rimba). Soal busana, kaum lelaki hanya mengenakan cawat (menutup kemaluan saja) dan perempuan menggunakan kemben sampai dada (untuk anak gadis) dan sebatas pusar untuk yang sudah menikah. Tanpa ’underwear’.
But, bagi mereka itu semua tidak menjadi celah untuk melakukan perbuatan ya sekedar esek-esek atau apalah. Jangankan untuk melakukan itu, berkedipan mata aja antara lelaki dan perempuan itu sudah suatu pelanggaran dan mereka bisa kena denda adat. Itu semua diatur dalam norma yang tidak tertulis tapi tetap terpelihara hingga saat ini.
Coba bayangkan, kalau di dunia luar, apakah ada lelaki yang sudah beristri tahan untuk tidak berhubungan intim hingga empat tahun? Rasanya jarang banget ya, mungkin akan banyak perselingkuhan dan juga tindakan asusila, apalagi kalau kaum perempuannya dengan pakaian minim, ih entah berapa banyak perbuatan seks bebas yang akan terjadi. So siapa yang kubu sebenarnya?





aku salut sama mereka… benar-benar bisa mengartikan kata “setia” yang sedalam-dalamnya…
juga lebih menghargai wanita di bandingkan mereka yang tinggal di kota..
By: melly ai on November 20, 2009
at 1:46 pm