Kehadiran pengemis sudah menjadi bagian dalam kehidupan kota Jambi. Namun bagaimana kalau diantara yang para pengemis yang beredar di Kota Jambi itu adalah Orang-orang Rimba yang sebelumnya hidup di pedalaman belantara Jambi. Uniknya lagi diantara rombongan pengemis itu juga ditemui kaum perempuan dan anak-anak. Kehadiran para pengemis dari komunitas Orang Rimba, mendapat perhatian serius dari kalangan media di Jambi.
Kepada para pemburu berita, itu Orang Rimba yang mengaku berasal dari Taman Nasional Bukit Dua Belas itu, merupakan Orang Rimba yang telah memilih untuk hidup menetap di desa dan berganti nama dengan menggunakan nama-nama melayu. Beredarnya komunitas rimba menjadi pengemis di kota, memang sebuah pemandangan yang sangat menyedihkan. Betapa tidak, perbuatan mereka untuk keluar dari ranah mereka apalagi sampai harus jauh ke kota dan juga melibatkan anak-anak dan kaum perempuan jelas bertentangan dengan adat istiadat mereka.
Orang Rimba atau yang lazim disebut masyarakat umum sebagai Orang Kubu atau suku anak dalam, sejak awal tahun 1990-an telah mulai menjadi pengemis. Para pengemis suku kubu ini dengan mudah dapat ditemui disepanjang jalan lintas Sumatera, dari daerah Bungo hingga ke Sarolangun. Pilihan menjadi pengemis suku kubu ini, berawal ketika gencarnya pembukaan lahan perkebunan dan trasmigrasi di daerah yang menjadi tempat mobilitas komunitas ini. Pembukaan hutan skala besar ini, telah menyebabkan suku kubu kehilangan sumber daya mereka yang menggantungkan hidup dari sumbet daya hutan, baik berupa hewan buruan, buah-buhan maupun umbi-umbian yang tumbuh di hutan. Seiring pembukaan lahan, sumber daya hutan yang menjadi tumpuan hidup mereka juga semakin berkurang dan akhirnya untuk bertahan hidup mereka memilih untuk meminta-minta disepanjang jalan lintas.
Satu-satunya kawasan di Provinsi Jambi yang diperuntukkan bagi kehidupan Orang Rimba, sehingga mereka bisa hidup layak dengan tetap mempertahankan kultur adat mereka adalah kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas. Sejak awal kawasan yang tepat berada di jantung provinsi Jambi itu, memang diperuntukkan bagi hidup dan penghidupan Orang Rimba. Kawasan yang ditetapkan mentri kehutanan seluas 60.500 hektar itu kini memang telah menjadi kawasan penghidupan Orang Rimba.
Namun kawasan taman ini juga belum aman dari penjarahan kayu dan juga penyerobotan lahan yang kemudian juga berujung kepada menipisnya sumber daya Orang Rimba. Di wilayah tertentu dipinggiran taman, dan juga terbatatsnya akses mereka disebabkan pembukaan perkebunan kelapa sawit, membuat Orang Rimba menjatuhkan pilihan menjadi Orang Desa. Dengan arti mereka memilih hidup menetap di dan berbaur dengan masyarakat desa. Namun apa daya, karena persiapan untuk menjadikan mereka Orang Desa juga belum siap, pada akhirnya dalam persaingan untuk meraih hidup Orang Rimba tetap kalah. Hal ini kembali ke kultur Orang Rimba yang masih belum terbiasa untuk hidup dari bercocok tanam layaknya orang desa lainnya. Akibatnya orang rimba kembali mengalami kesulitan untuk melanjutkan hidup dan kemudian mereka memilih jalan menjadi pengemis jalanan. Seperti yang belakangan mereka juga menelusuri jalan-jalan kota Jambi, tempat yang pada dasarnya sangat jauh bagi ukuran Orang Rimba.
Beredarnya Orang Rimba menjadi pengemis hendaknya menjadi perhatian banyak pihak. Paling tidak ini menjadi penanda kalau kehidupan mereka semakin sulit dan terjepit. Walau juga harus diakui bahwa yang mengambil pilihan ini hanya sebagian kecil dari kalangan Orang Rimba di kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas Jambi. Saat ini berdasarkan survey yang dilakukan KKI Warsi di kawasan TNBD masih terdapat 15 kelompok Orang Rimba yang masing-masing dipimpin seorang Tumenggung. Bagi mereka lebatnya hutan belantara adalah berkah yang harus mereka pertahankan untuk menjaga kelangsungan hidup. Itulah makanya dalam setiap kesempatan, apa yang paling diinginkan Orang Rimba, jawabannya adalah hutan mereka tetap terjaga. “Hutan hancur kamipun hancur” ucap Tumenggung Tarip salah satu pimpinan tertinggi komunitas Orang Rimba di Air Hitam. Maka bagi kita, jangan biarkan mereka tercerabut dari akar budaya mereka.





salam kenal dari: http://simpanglima.wordpress.com/
By: isdiyanto on March 15, 2008
at 11:55 pm
Somehow i missed the point. Probably lost in translation
Anyway … nice blog to visit.
cheers, Bilge.
By: Bilge on June 19, 2008
at 8:59 am
Sejak awal Orang Rimba tidak pernah berminat tinggal di luar hutan, karena kawasan hidup mereka bukan di sana. Karena mereka tetap harus betahan hidup, pilihan yg mungkin dilakukan –dan tidak menuntut keahlian khusus– ya mengemis itu. Sayangnya, Pemprov Jambi, termasuk dinas sosial, yang paling bertanggung-jawab tidak punya visi dalam memberdayakan Orang Rimba. Kalaupun ada, selalu ada yang ada “bau-bau” proyeknya, sehingga ada fulus yang bisa direkayasa. Lihat saja upaya menyediakan mereka permukiman berupa rumah permanen dengan biaya miliaran rupiah, tapi tidak pernah ditinggali Orang Rimba. Mereka, Orang Rimba, butuh hutan sebagai kawasan hidup, bukan beruypa rumah, materi atau bentuk “sedekah”/charity, sebagaimana yang selama ini selalu menjadi model pemerdayaan. Mungkin perlu mereformasi orang dinas/depsos ya, agar memiliki pendekatan pemberdayaan dalam memahami masyarakat seperti Orang Rimba. Tapi sampai kapan ya menunggu mereka paham? Sampai Depsos dipimpin orang-orang yang paham dengan konsep pengembangan masyarakat (comdev) kali ya.
Selamat buat unireni ya. Punya blog yang mengungkap sisi lain dari hutan yang makin tergerus dan Orang Rimba yang makin tersingkir.
By: erdi taufik on November 13, 2008
at 2:44 pm
Benar Bang, pemberdayaan ala pemerintah justru sering tidak nyambung dengan yang dibutuhkan Orang Rimba.
mungkin baru paham kalau para bapak-bapak itu mau nginap dan hidup bersama Orang Rimba barang sebulan dua bulan. Baru mereka paham yang dibutuhkan apa.
Makasih bang udah mampir. Salam untuk keluarga.
By: reni on November 14, 2008
at 11:11 am
Kalau boleh, saya minta alamat organisasi yang berkecimpung di bidang pencinta alam dan lingkungan hidup di Kota Jambi, sudah sejak lama saya ingin gabung tapi belum tau kesiapa dan dimana ? Mohon Infonya <Trim’s.
By: Masruding.bone on February 27, 2009
at 1:25 pm