Posted by: sukmareni | May 15, 2007

Siapakah yang Kubu?

Sebutan Kubu kadung terlanjur dimaknai sebagai sesuatu yang bodoh dan terkebelakang. Paling tidak begitulah pemaknaan kata kubu ketika kita berada di Jambi. So jangan heran jika ada orang-orang di Jambi menyebut kawannya dengan sebutan kubu, ketika dia memandang kawannya tersebut bodoh dalam melakukan sesuatu.

Sebutan kubu di Jambi sebenarnya ditujukan untuk Orang Rimba yang hidup di pedalama hutan di Provinsi Jambi. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh KKI Warsi pada tahun 2004 populasi Orang Rimba atau yang sering disebut kubu di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) sejumlah 1.327 jiwa. Jumlah ini tidak jauh beda jika dibandingkan dengan survey yang dilakukan pada tahun 1999 lalu.

Read More…

Posted by: sukmareni | April 12, 2007

Indonesia, Deforestasi Terbesar di Dunia

Menurut data State of the World’s Forests 2007’ yang dikeluarkan the UN Food & Agriculture Organization’s (FAO), angka deforestasi Indonesia 2000-2005 1,8 juta hektar/tahun. Sedangkan Brazil dalam kurun waktu yang sama 3,1 juta hektar/tahun dengan gelar kawasan deforestasi terbesar di dunia. Namun karena luas kawasan hutan totalIndonesia jauh lebih kecil daripada Brasil, maka laju deforestasiIndonesia menjadi jauh lebih besar. Laju deforestasi Indonesia adalah 2% per tahun, dibandingkan dengan Brasil yang hanya 0.6%.

Tingginya angka deforestasi ini, juga terlihat di Jambi, berdasarkan analisis peta citra satelit yang dilakukan KKI Warsi dan Birdlife Indonesia, dalam kurun 10 tahun Jambi kehilangan 1 juta hektar hutannya. penyebabnya ketidak mampuan aparat penegah hukum untuk mengegakkan aturan untuk menghentikan aksi-aksi destruktive logging. Padahal segala dampak nyata akibat kerusakan hutan telah dirasakan, banjir, kekeringan, erosi, longsor, sedimentasi dan sebagainya

Read More…

Posted by: sukmareni | April 12, 2007

Bumi makin Panas

mainpic01-ab.jpg

17 tahun lalu, tepatnya 1990 IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change/Panel Antar-Pemerintah untuk Perubahan Cuaca) memaparkan hasil penelitiannya yang pertama (First Assessment Report). Dalam hasil penelitian itu disebutkan perubahan iklim adalah ancaman serius bagi umat manusia dan lingkungan. Ancaman serius bagi dunia tersebut ditindaklanjuti dengan seruan pentingnya kesepakatan global untuk menanggulangi masalah perubahan iklim. Kemudian dengan segera Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) membentuk INC (Intergovernmental Negotiating Committee) untuk melaksanakan negosiasi konvensi yang berkaitan dengan perubahan iklim.

Jumat lalu, 6 April 2007, IPCC kembali mengeluarkan laporan yang berjudul Climate Change Impacts, Adaptation and Vulnerability. Salah satunya menyebutkan bahwa Indonesia telah mengalami kenaikan suhu 0.2 hingga 1 derajat celcius berdasarkan pengamatan tahun 1970 hingga 2000. Akibatnya, menurut laporan tersebut terjadi penurunan produksi pangan sehingga bisa meningkatkan risiko bencana kelaparan, peningkatan kerusakan pesisir akibat banjir dan badai, peningkatan kasus gizi buruk dan diare, dan perubahan pola distribusi hewan dan serangga sebagai vektor penyakit.

Laporan IPCC tersebut berkesimpulan bahwa ada “high confidence” (yang berarti 80% kemungkinan) untuk menyatakan perubahan suhu yang terjadi akhir-akhir ini telah berdampak kepada banyak sistem fisik dan biologis alam. Untuk wilayah Indonesia, laporan IPCC mengindikasikan hanya satu lokasi perubahan fisik alam, yaitu di Papua.

Read More…

Posted by: sukmareni | April 4, 2007

Salut untuk Warga Lubuk Beringin

model-pltka.jpg

Gemericik air sungai yang jernih mengundang minat untuk menceburkan diri ke Sungai Buat yang mengalir dipinggiran Desa Lubuk Beringin. Anak Sungai Batang Bungo yang berhulu ke hutan di Taman Nasional Kerinci Seblat itu, telah memberi manfaat yang luar biasa untuk masyarakat Desa. Tidak hanya untuk kebutuhan MCK, sungai yang itu juga dimanfaatkan masyarakat Desa untuk pembangkit listrik. Mikro hidro sederhana. Masyarakat Desa mengalirkan air sungai menuju kincir air yang akan memutar kincir untuk menggerakkan turbin pembangkit tenaga listrik.

Read More…

Posted by: sukmareni | April 4, 2007

Belajar pada Masyarakat

stern-di-hutan-adat2.jpg

>>Uncle Stern sedang melihat-lihat hutan adat masyarakat Guguk

Ya, kejadiannya sih udah seminggu yang lalu, lebih malah. Sir Nicholas Stern mau tahu tentang Stern baca disini—penasehat ekonomi pemerintah Inggris di dampingi Duta Besar Inggris untuk Indonesia berkunjung ke Jambi. Selain lawatan dengan pemerintah daerah, Stern juga berkenan untuk mengunjungi Desa Guguk Kecamatan Sungai Manau Kabupaten Merangin Jambi. Banyak hal unik dari kunjungan Stern ini, terutama ketika berada di Desa.

Masyarakat desa guguk, pada hari kedatangan Stern, sengaja meniadakan aktifitasnya. Sebagian masyarakat berkumpul di lapangan desa tempat yang dijadikan helipad. Di tengah lapangan bola yang disulap jadi helipad dengan ditandai huruf H dalam lingkaran, menjadi pusat perhatian masyarakat. Maklum deh jarang-jarang masyarakat bisa melihat langsung capung besi. Maka beramai-ramailah masyarakat disekitar lapangan untuk menyaksikan pendaratan heli milik Polda Jambi yang membawa rombongan Stern tersebut.

Read More…

Posted by: sukmareni | March 10, 2007

Wanatani untuk Hutan Tersisa

pondok.jpg

Masyarakat Desa Baru dan Desa Lubuk Jering, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun telah menyadari arti penting keberadaan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) bagi kehidupan mereka. Sebagai desa penyangga yang sangat dekat dengan taman tersebut, dulunya akses dan ketergantungan masyarakat sangat tinggi terhadap TNBD. Kini masyarakat mulai menyadari pentingnya kehadiran TNBD untuk mereka dan masyarakat Jambi, bahkan dunia.

Bahkan sesama masyarakat kini telah saling mengingatkan untuk tidak lagi masuk dan berkegiatan di dalam Taman,” ujar Erinaldi, Fasilitator Desa KKI Warsi.

Awalnya, masyarakat di dua desa ini sangat tergantung dengan Taman, baik untuk mengambil kayu ataupun berladang. Kini kegiatan ini telah ditinggalkan seiring dengan hadirnya program Wanatani hasil kerjasama KKI Warsi dengan Dinas Kehutanan Provinsi Jambi.

Program wanatani dilaksanakan sesuai dengan potensi masing-masing desa dan areal yang tersedia. Untuk masyarakat yang dari dahulunya telah mempunyai sawah disarankan untuk kembali ke sawah. Sedangkan masyarakat yang dulunya mempunyai kebun karet diarahkan untuk melakukan peremajaan karet.

”Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dengan didukung sumberdaya yang sudah mereka miliki secara turun temurun. Harapannya, masyarakat tidak lagi menggantungkan perekonomian mereka ke taman,” kata Erinaldi.

Tak hanya peremajaan karet, kini juga disediakan bibit karet unggul untuk masyarakat di semua desa penyangga TNBD. Kebun bibit ditempatkan di Desa Jernih. “Tujuannya supaya masyarakat yang membutuhkan karet dapat membeli bibit karet dengan sistem subsidi ke kebun bibit,” kata Erinaldi. Pembibitan itu merupakan hasil kerjasama dengan Balai Penelitian Karet Sungai Putih Medan Sumatera Utara. Bibit yang disediakan pun dari jenis bibit unggul dengan klon PB 260 untuk batang atas (entres) dan klon GT 1 untuk batang bawah.

>>diambil dari catatan lain di hari lain

« Newer Posts

Categories